Sunday, 24 June 2012

This is the story

This is the story. I didn't know what kind of story. I copied this from someone else. Someone who have the same story with me. I didn't have any purpose posting this story. I just wanted to share her experience. I didn't expect any comments of this from you. Just read.. and pretended that you were her.. and felt it.. :)


Hari ini, hari terakhir di tahun 2011. Yap, 31 desember 2011. Besok adalah tahun baru, ku harap..
Banyak peristiwa yg terjadi di tahun 2011, mau itu baik, buruk, lucu, sedih, memalukan, menyebalkan, dll. Dan mungkin ini juga terjadi pada kehidupannya. Tadi pagi , tidak tahu apa yg mendorongku untuk membuka facebooknya menggunakan akun facebook palsu buatanku. Kulihat sekilas status2 yg dia buat. Sedih memang melihatnya begitu sayang pada pacarnya saat ini. Meskipun pertengkaran sering terjadi diantara mereka, sama seperti aku dan dia dulu. Teringat lagi kenangan2 yg telah lama aku kubur, kenangan2 itu tak berhenti melayang2 dipikiranku. Mereka seperti membuat film documenter, kilasan kenangan saat aku masih bersama dia. Saat pertama kali aku mengenalnya, saat pertama kali dia mengirim sms, saat dia bilang kalo dia suka padaku, saat kita pergi dan menghabiskan waktu bersama.

Sakit hatiku mengenang itu semua, entah mengapa. Tapi sesedih apapun itu, tetap tak ada air mata yg menetes di mataku. Mungkin karena luka itu sudah terlalu dalam dan aku sudah tak mempunyai kekuatan untuk mengeluarkannya, menyembuhkannya. Kuliah di bandung, bermain bersama teman2 dan ketawa2 memang membuat ku lupa, tapi hanya sejenak. Ketika aku berada dalam kesepian dan sendiri, aku teringat akan keluargaku, juga akan dia. Dan setelah itu, aku hanya bisa menangis. Apalagi yg bisa aku perbuat ?
Aku mempunyai teman laki2, mereka baik. Tapi tetap hatiku tak bisa menerima kehadiran mereka. Hati ini serasa menolak untuk menggantikan tempatnya dihatiku. Aku menjadi orang yg menyebalkan bagi mereka. Tapi aku tak bisa memaksakan hati ini. Lagu d masiv – rindu setengah mati, kadang aku tak berani mendengarkan lagu ini, karena air mataku akan sangat mudah mengalir. Banyak hal yg bisa mengingatkan aku kepadanya. Seperti  jam pasir itu.. jam pasir yg dia hadiahkan kepadaku ketika dia pulang dari pangandaran. Jam pasir itu masih aku simpan sampai sekarang, ingin sekali aku membuangnya. Tapi selalu saja ada perasaan menolak. Aku kembali menyimpan jam pasir itu dilemariku.

Setahun ini, banyak kejadian yg terjadi pada kehidupanku dan kehidupannya. Aku selalu berpikir, apakah dia masih mengingatku? Apakah dia masih mengingat kenangan ketika bersamaku ? apakah dia masih mengingat semuanya tentangku seperti aku  mengingat semua tentang dia dan semua hal yg dia suka dan tidak suka ? atau apakah sebaliknya, dia sudah melupakanku ? aku tidak tahu. Tapi melihat tindakannya terhadapku seperti dia memblock facebook ku, memberikan nomor handphone ny yg lama (dimana semua sms ku tersimpan dulu) kepada pacarnya sekarang dan benar2 memutuskan hubungannya denganku, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa dia memang benar2 ingin melupakanku. Aku menangis. Kenyataan ini begitu menyakitkan ketika aku harus disadarkan kembali kalau dia memang bukan milikku lagi. Kenapa ada pikiran semacam ini padahal aku telah melalui waktu yg panjang tanpa dia. Tapi kenapa…? Kapan ini akan berakhir ?

Sudah lama aku tidak membuat catatan seperti ini. Terakhir aku membuatnya ketika hatiku sudah benar2 tak mampu menahan beban pikiranku terhadap dia. Aku hanya bisa mencurahkan semua isi hatiku lewat catatan seperti ini. Agar aku bisa membacanya di waktu yg akan datang dan menyadari bahwa aku yg dulu adalah orang yg sangat2 bodoh. Dan mungkin saat membaca catatan ini aku akan tertawa dan berjanji pada diriku sendiri kalau aku tak akan berbuat seperti apa yg aku perbuat dulu.
Ada satu hal yg ingin aku ceritakan disini. Aku tidak bermaksud menyalahkan dia  atas semua yg dia perbuat kepadaku hingga aku jadi seperti ini. Aku pun tidak tahu mengapa aku seperti ini. Tapi yg aku rasakan sekarang adalah aku jadi mati rasa. Aku berpikir aku seperti ini karena dulu aku terlalu menyayangi dia dan aku belum siap menerima kalau sekarang dia meninggalkanku. Tapi aku salah. Aku seperti ini, mati rasa kepada cowok lain, karena aku takut. Aku tidak berani mengambil resiko untuk menyayangi seseorang yg akhirnya akan menyakiti diriku sendiri. Aku sudah muak mendengar janji2 yg dulu dia ucapkan kepadaku tapi tak satupun dari janji itu dia tepati. Padahal aku sangat berharap dia akan menepati janjinya, walaupun kecil, walaupun sebentar, mungkin aku akan sangat senang dan mungkin luka ini akan sembuh walaupun sedikit. Tapi dia tidak melakukannya. Harapanku hancur. Ternyata dia bukan orang yg pantas untuk diharapkan.

Dulu ketika aku masih bersamanya, aku menjadi buta. Aku buta karena aku tulus menyayanginya, menerima dia apa adanya, dengan semua sifat, sikap dan kondisinya. Aku sangat menyayanginya sampai aku tak pernah lengah dari dia. Aku tk pernah berpikir untuk mempunyai cinta lain. Aku selalu mengarapkan dia. Aku tak pernah selingkuh, aku tak pernah membandingkan dia dengan yg lain, aku tak pernah melakukan sesuatu yg bisa melukai hatinya. Aku selalu menyayangi dan menjaga hatinya. Walaupun dulu dia jauh dariku, tapi aku selalu percaya bahwa dia akan melakukan hal yg sama dengan apa yg aku lakukan, bahwa dia akan selalu setia kepadaku.

Ada beberapa teman laki2ku yg kesal melihat tingkahku, mereka berpikir sesayang itukah aku kepada dia sampai2 aku begitu percaya bahwa dia akan baik2 saja dan tetap menjaga hubungan kami. Tapi aku tak pernah mempedulikan pikiran mereka semua, yg aku tahu dia sayang aku, aku sayang dia, dan aku tak pernah berpikiran buruk tentang dia.
Begitu berartinya dia untukku dulu. Aku berpikir tak akan ada yg bisa menggantikan dia. Dan mungkin  itu berlaku sampai  sekarang. Aku merasa ketika aku membuat catatan ini, aku berada di waktu yg lalu. Aku melihat semua kejadian antara aku dan dia. Waktu yg aku lalui bersama dia dan seakan2 ada pusaran waktu yg lain, yg memaksaku untuk kembali ke waktu sekarang. Dimana aku dan dia mempunyai kehidupan yg berbeda, situasi dan kondisi yg berbeda. Dimana semua keadaan tidak seperti dulu lagi.

Tapi benar apa kata pepatah, waktu akan menyembuhkan luka yg tidak bisa disembuhkan oleh obat. Atau waktu adalah obat yg mujarab untuk menyembuhkan luka hati. Tapi luka itu belum sepenuhnya sembuh, dia meninggalkan bekas luka yg dalam. Dan itu masih terasa sakit dan perih. Belum ada yg bisa membuatnya lebih baik.

Tak ada alasan yg kuat mengapa aku membuat catatan seperti ini. Mungkin karena tadi aku membuka akun facebook nya, pikiran2 yg dulu aku kubur muncul kembali, dan terpaksa aku harus mengeluarkannya. Kalau sahabatku, Dinda, tau kalau kau melakukan hal seperti ini (membuka facebook dia) dia akan sangat marah dan mulai menceramahiku, karena hal yg aku perbuat adalah hal bodoh yg selalu aku lakukan, dan itu semua percuma. Yg aku dapatkan adalah luka masa lalu yg semakin sakit aku rasakan. Aku hanya ingin tahu keadaan dia L aku tidak bisa menahan keinginan untuk tidak mengetahui kabarnya.

Bahkan ketika aku pulang ke rumah, aku berharap aku bertemu dengan dia. Tapi aku mengurungkan niatku, karena aku tidak bisa membayangkan jika aku memang benar2 bertemu dia. Apakah aku akan berlari dan bersembunyi ketika melihatnya ? atau aku akan berpura2 tidak melihatnya ? atau aku akan bersikap biasa2 saja seperti kami tak pernah mempunyai masalah ? atau bahkan aku akan gemetar melihat dia lalu menangis ? entahlah, tapi sungguh sangat memalukan -_________________________-

Dia saja sudah melupakanku, untuk apa lagi aku harus mengingatnya ??
Sudahlah, lupakan. Anggap semua ini mimpi indahku sekaligus mimpi burukku. Yang menghilang ketika aku bangun dan takkan mengingatnya lagi. Andai ini bisa bekerja…….
 


No comments:

Post a Comment